by

Atalanta Setapak Menuju Eropa

Sinarmerdeka.id – Pagi hari waktu setempat, atau sore WIB kemarin (14/5), harian yang berbasis di Bergamo, L’Eco di Bergamo, membuat dua kata sebagai judul di halaman depannya; In Europa atau Ke Eropa.

Judul itu dipakai koran berusia 137 tersebut setelah Atalanta menahan AC Milan 1-1, di Stadion Atleti Azzurri d’Italia, dinihari kemarin (14/5).

loading...

Ya, berkat gol Andrea Conti semenit menjelang turun minum, Atalanta mengunci tiket mereka ke Europa League. Sebab, jarak mereka di posisi kelima dengan Fiorentina yang ada di peringkat ketujuh adalah tujuh poin (66-59),

La Dea atau Sang Dewi, sebutan Atalanta, pun tidak mungkin lagi dikejar oleh Fiorentina dengan Serie A hanya menyisakan dua laga tersisa.

Namun, Atalanta belum bisa memastikan tempat mereka untuk lolos langsung ke kompetisi kelas dua Benua Biru itu. Sebab, marjin dengan Milan di rangking enam masihlah enam angka (66-60).

Atalanta memiliki handicap, terutama head to head goal difference dengan Rossoneri, julukan Milan.

Pada pertemuan pertama di San Siro, 18 Desember lalu, kedua tim juga bermain seri tanpa gol. Lalu, pada pertemuan kedua di Bergamo dinihari kemarin, Milan memiliki keunggulan satu gol berkat sontekan Gerard Deulofeu di menit 87.

Meski kans mereka menuju fase grup masih abu-abu, lolosnya mereka menuju Europa League tetap disambut sukacita oleh penduduk Bergamo.

Maklum, terakhir kali Atalanta berkiprah pada ajang Eropa adalah Piala UEFA (nama lama Europa League), musim 1990-1991 silam. Saat itu, mereka mampu menembus perempat final, sebelum dihentikan oleh sesama klub Negeri Pizza, Inter Milan, dengan agregat 0-2.

Pencapaian terbaik klub dari asal Lombardia itu adalah saat mencapai semifinal Piala Winners, musim 1987-1988.

Sebuah prestasi yang fenomenal. Sebab, saat itu, status Atalanta adalah kontestan Serie B, alias kasta kedua liga Italia. Pencapaian yang setara dengan klub asal Wales, Cardiff City.

Presiden Atalanta, Antonio Percassi, mengaku dirinya tidak memprediksi bahwa mereka bakal mengunci tiket Europa League.

Sebab, selain gol balasan Milan yang dilesakkan Deulofeu, penampilan Gianluigi Donnarumma dkk juga berbahaya. Dari 13 tembakan yang dilakukan Milan, tiga diantaranya terjadi sepanjang sepuluh menit terakhir, termasuk gol dari Deulofeu.

”Ini adalah malam yang sangat special,” terang Percassi kepada Medium Sport. ”Aku harus berterima kasih kepada para pemain telah mewujudkan hal ini. Pencapaian ini berkat dukungan masyarakat Bergamo lainnya,” lanjutnya.

Kredit tersendiri patut disematkan kepada allenatore Gian Piero Gasperini. Menggantikan Edoardo Reja pada 16 Juni tahun lalu, dirinya langsung membawa Atalanta menorehkan finis terbaik sepanjang lima musim terakhir.

Titik balik Atalanta terjadi setelah dikalahkan Inter Milan dengan sangat telak, 1-7 (12/3).

Pasca hasil mengerikan tersebut, Atalanta tak lagi menuai kekalahan dalam tujuh laga. Termasuk menahan imbang juara bertahan Juventus, 2-2 (29/4).

Gasperini pun berkata, setelah memastikan tiket Europa League, dirinya tidak akan membiarkan Papu Gomez dkk berleha-leha. ”Kami ingin memberikan penampilan bagus di Eropa musim depan,’ tuturnya seperti dilansir Mediaset Premium. (apu/jpg)

Comment

Berita Lainnya