oleh

Bacagub Harus Punya Modal Politik

Sinarmerdeka.id – Sosok pemimpin yang akan bertarung dalam Pilgub 2018 terus mendapat sorotan. Kalangan tokoh agama dan budaya pun angkat bicara soal bakal calon gubernur (bacagub) yang akan memperebutkan kursi BE 1.

Dalam pandangan tokoh agama Lampung K.H. Khairudin Tahmid, sosok pemimpin yang baik harus visioner dan bisa memajukan Lampung ke depan. Untuk itu, sosok calon pemimpin Lampung harus jelas track record-nya. Apa saja yang selama ini telah diperbuatnya untuk masyarakat.

loading...

’’Sosok pemimpin yang baik itu harus visioner dan bisa memajukan Lampung ke depan. Ukurannya apa, tentu rekam jejak yang baik. Selain itu juga dekat dengan rakyat. Serta publik harus tahu apa yang sudah dilakukannya selama ini,” ujarnya kemarin (17/5).

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Lampung itu meneruskan, calon yang akan maju pilgub tentu harus punya modal politik yang mencukupi. Sebab, dia akan memimpin Lampung ke depan. ’’Cagub harus punya modal yang mumpuni. Seperti modal politik agar bisa memimpin Lampung dengan baik. Jadi nggak sembarangan ujug-ujug maju sebagai cagub. Dia harus punya modal politik, kemampuan, dan rekam jejak yang baik,” katanya.

Terkait adanya kandidat cagub yang dimodali oleh pihak tertentu untuk kepentingan tertentu, Khairudin menegaskan, sebenarnya publik sudah cerdas dalam memilih. Meski begitu, menurutnya, tak bisa dipungkiri untuk maju pilgub memang membutuhkan modal finansial yang sangat besar.

’’Itu tak bisa dipungkiri, nyagub kan butuh modal yang besar. Tetapi tentu tidak bisa seperti itu (pemilik modal menyetir kada terpilih, Red). Sebab di era demokrasi yang mapan, seharusnya sudah bergeser untuk tidak lagi melihat sifatnya materi. Namun memilih pemimpin yang punya kemampuan yang baik,” ungkapnya.

Solusi untuk menghindari masyarakat salah memilih pemimpin, sambung Khairudin, adalah dengan pendidikan politik untuk masyarakat. Selain itu, parpol juga harus benar-benar memilih calon terbaik untuk diusung dalam pilgub.

’’Maka dibutuhkan pendidikan politik untuk masyarakat. Parpol juga harus berperan dalam pendidikan politik ini. Dan tidak mengusung calon yang buruk track record-nya,” tegas dia.

Menurut Khairudin, dalam konteks Pilgub 2018, sebenarnya masih prematur. Sejauh ini belum ditetapkan calon yang akan maju. Tetapi, menurut dia, setidaknya tiga pasang yang bertarung berdasarkan peta politik yang ada.

’’Masih jauh pilgubnya karena Juni 2018. Jadi bisa saja nanti yang muncul nama-nama baru. Jadi masih prematur sebenarnya. Tetapi calon seharusnya mengedepankan program untuk pembangunan Lampung, bukan hanya bagi-bagi materi yang sifatnya pragmatis. Atau hanya memasang spanduk dan menonjolkan janji-janji. Tetapi harus menjelaskan visi dan misinya seperti apa untuk kebaikan Lampung ke depan,” tandasnya.

Sementara itu, pandangan berbeda disampaikan budayawan Lampung Isbedy Stiawan Z.S. Menurut seniman kondang asal Lampung ini, dirinya sulit berbicara mengenai track record cagub karena itu lebih mengarah pada privasi seseorang.

’’Kalau rekam jejak cagub saya sulit bicara, karena itu kan mengarah pada privasi seseorang. Namun yang utama adalah bagaimana cagub ke depan mampu mewujudkan apa yang menjadi program dan visi-misinya ketika mendapat amanah dari rakyat sebagai gubernur. Nggak hanya punya program tetapi juga selesai di program. Bagaimana cagub itu bisa mewujudkan janji-janji kampanye dan programnya untuk rakyat,” ungkapnya.

Selain itu, sambung Isbedy, dibutuhkan pemimpin yang peduli dan mau membangun bidang spiritual di Lampung. Spiritual di dalamnya termasuk keagamaan dan kebudayaan. Diakuinya, untuk pembangunan budaya, era Sjachroedin Z.P. masih gubernur lumayan bagus. Di zaman kepemimpinan Ridho juga menurutnya ada, meski belum maksimal. Cagub ke depan diharapkan lebih peduli lagi di bidang budaya.

’’Pembangunan spiritual itu kan di dalamnya ada kebudayaan, keagamaan, bukan hanya pembangunan fisik seperti fly over atau infrastruktur lainnya yang justru membuat shock culture. Kita ambil saja kalimat dalam lagu Indonesia Raya; Bangunlah Jiwanya, Bangunlah Raganya. Jadi jiwanya dulu yang dibangun, baru raganya. Tetapi ini bukan jargon salah satu cagub yang senam massal ya. Karena seharusnya olahraga kan tak perlu dirangsang dengan hadiah,” ujarnya sambil tertawa.

Isbedy berharap semua kandidat mengedepankan politik santun. Calon juga lebih mengedepankan adu program. Selain itu juga dibutuhkan pencerahan, pencerdasan dari media massa. ’’Selain itu, KPU harus terbuka memberikan pendidikan politik yang baik kepada masyarakat,” pungkasnya. (rdl/simer)

Komentar

Berita Lainnya