oleh

DEBAT BAKAL LEBIH PANAS!

Petahana Fokus Hasil Kerja, Penantang Kritisi Kinerja

SINARMERDEKA.ID – Tim Kampanye Nasional (TKN) maupun Badan Pemenangan Nasional (BPN) sudah mempersiapkan skenario dalam menghadapi enam segmen pada Debat Pilpres 2019 yang berlangsung di Hotel Shangri La, Jakarta Pusat, hari ini (30/3) pukul 20.00 WIB. Meski pun kedua paslon capres-cawapres mengklaim tidak memiliki persiapan khusus.

loading...

Ya, debat yang mengusung tema “Ideologi, politik luar negeri, dan pertahanan keamanan” diyakini banyak pihak akan lebih panas dibandingkan debat-debat sebelumnya. Apalagi debat kali ini, menjadi satu penilaian bagi publik untuk bisa mendengar program apa yang akan dilakukan bagi sang penantang. Sementara petahan, tentu akan mengambil inisiatif bertahan. Dan lebih memilih aman untuk memaparkan apa yang sudah dikerjakan pada 4,5 tahun pengabdiannya.

Bagi pasangan capres-cawapres 01 Joko Widodo dan Maruf Amin, debat kali ini tidak ada persiapan khusus, apalagi melakukan simulasi atau latihan. “Persiapan khusus enggak ada. Nanti (saat debat, red) lebih fokus pada pertanyaan saja. Ya, tergantung pertanyaannya. Kalau enggak ditanya data masa ngeluarin data,” terang Mantan Gubernur DKI itu usai menunaikan ibadah salat Jumat di Masjid Baitussalam Istana Kepresidenan Bogor, kemarin (29/3).

Jokowi mengaku simulasi debat yang pernah dilakukannya bersama KH Maruf Amin serta timnya hanya sekali saat menjelang debat putaran pertama. “Pernah tapi awal ya. Pertama sekali dengan Pak kiai (Maruf Amin). Itu saja, selebihnya enggak. Sekarang ini jadwal kampanye padat sekali, terus bagaiman mau simulasi,” imbuhnya.

Dalam debat Jokowi akan berupaya menyampaikan hasil kerja yang telah dilakukannya dalam 4,5 tahun terakhir. “Kalau ada kesempatan nanti saya ceritakan apa yang sudah kita kerjakan. Ya, mengalir saja,” imbuhnya.

Sementara itu BPN Prabowo Subianto-Sandiaga Uno menyebutkan capres nomor urut 02, Prabowo Subianto, sudah menyatakan siap menghadapi debat. Juru bicara BPN Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Andre Rosiade, mengatakan dalam debat nanti Prabowo tidak berbeda jauh dengan debat sebelumnya.

“Pak Prabowo hanya fokus saja pada program-program unggulan beliau tanpa perlu menyerang Pak Jokowi. Dan itu prinsip Pak Prabowo, kita bisa menang tanpa perlu menyerang,” kata terangnya.

Dalam debat keempat nanti lanjut Andre, Prabowo akan berbicara soal bagaimana menjadikan TNI yang profesional dan dicintai rakyatnya.”Kita pasti ingin menjadikan TNI kita TNI yang profesional. Tentara rakyat yang dicintai rakyat tapi juga mempunyai efek gentar di negara-negara kawasan,” kata dia.

Ia juga menyinggung wacana menempatkan perwira menengah dan tinggi TNI untuk mengisi jabatan di instansi sipil, yang pernah diartikan sama saja mengembalikan peran Dwifungsi TNI.Wacana itu, kata dia, sebagai bentuk kemunduran reformasi dan demokrasi Indonesia.

“Pamen dan perwira tinggi yang tidak dapat jabatan dilibatkan ke institusi sipil, saya rasa itu kebijakan yang salah. Seharusnya anda tambah anggaran di TNI, perintahkan Panglima kembangkan struktur organisasi, kasih anggaran lalu dikasih anggaran yang cukup untuk latihan. Jadi intinya kita akan fokus, jangan sampai ada dwifungsi,” tuturnya.

Selain itu, dia juga bicara soal janji untuk meningkatkan kesejahteraan para prajurit TNI serta personel Kepolisian. Menurutnya, anggaran untuk Polri juga bakal meningkat jika Prabowo-Sandiaga menang. “Termasuk memperjuangkan kemerdekaan Palestina. Dia menekankan mendukung kemerdekaan Indonesia adalah perintah UUD 1945. Politik bebas dan aktif, lalu mendukung kemerdekaan Palestina itukan perintah UUD 45 di pembukaan di mana disebutkan menolak segala bentuk penjajahan,” katanya.

Terpisah, Pengamat hubungan internasional dari Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Fitriani meyakini jika masing-masing calon presiden mempunyai kekuatan dan amunisi yang nantinya digulirkan dalam Debat Pilpres yang mengusung tema “Ideologi, politik luar negeri, dan pertahanan keamanan”.

“Capres nomor urut 01 memiliki keunggulan untuk menyampaikan berbagai kerja diplomasi yang sudah dijalankan.Sementara capres nomor urut 02 bisa menyoroti tentang kurangnya kepemimpinan Indonesia di kawasan akhir-akhir ini akibat ketidakpastian global dan adu pengaruh antara dua kekuatan dunia, yakni Amerika Serikat dan Cina,” paparnya.

Tidak bisa dipungkiri, lanjut Fitriani beberapa kasus keberhasilan perlindungan warga negara Indonesia (WNI), terutama pekerja migran Indonesia, di luar negeri dapat menjadi salah satu poin, yang dapat disampaikan oleh capres 01 Jokowi dalam debat pilpres keempat, sebagai keunggulan diplomasi pemerintah RI.

“Ya misalnya, bagaimana pemerintah Indonesia sudah berhasil menyelamatkan Siti Aisyah di Malaysia dari tuntutan hukum yang dihadapinya dalam kasus pembunuhan Kim Jong-nam. Di sini bisa terlihat bagaimana kerja perlindungan TKI tampak nyata sudah dilakukan,” katanya.

Fitri menambahkan, capres 01 Jokowi juga bisa menyatakan bahwa Indonesia sudah melakukan diplomasi maritim, dan hal itu terbukti dengan telah diterbitkannya buku putih maritim Indonesia. Selain itu, lanjut dia, Jokowi juga bisa menyatakan bahwa Indonesia sudah cukup aktif dalam diplomasi internasional, yang dibuktikan dengan terpilihnya Indonesia sebagai anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB.”Dari tiga poin itu sudah cukup kuat ‘amunisi’ yang bisa dipakai capres 01 untuk debat pilpres nanti,” ucap Fitri.

Sementara itu, untuk capres nomor urut 02 juga bisa menyoroti tentang mengapa Indonesia tidak lagi menjadi pemimpin regional. Kinerja pemerintah saat ini dikritik karena belum terlihat kepemimpinan Indonesia di ASEAN.

Sebab terjadi kemungkinan besar karena ASEAN sendiri sekarang sedang menjadi tempat terjadinya tarik-menarik pengaruh antara dua adidaya dunia, yakni AS dan Cina. “Hal itu membuat Indonesia dianggap masih kurang dapat memimpin ASEAN di tengah ketidakpastian global saat ini.

Misalnya, bagaimana konsep Indo-Pasifik yang ditawarkan oleh pemerintah yang sekarang belum sepenuhnya dibeli oleh negara-negara kawasan dan juga belum dibeli oleh negara-negara di dunia,” jelasnya.

Poin tentang kurang terlihatnya kepemimpinan Indonesia di kawasan saat ini, menurut dia, dapat menjadi satu amunisi bagi capres 02 Prabowo dalam debat pilpres keempat. “Karena kalau kita membahas atau menggunakan kata Indo-Pasifik yang terpikir adalah justru Indo-Pasifik yang dikeluarkan oleh Amerika. Indonesia belum bisa memberi warna bagi konsep Indo-Pasifik itu sendiri,” pungkas Fitri. (smol)

Komentar

Berita Lainnya