by

Kasus Perbudakan ABK Jadi Sorotan Dunia, Azis Syamsuddin Minta Pola Rekrutmen Diperketat

JAKARTA – Kasus perbudakan modern yang menimpa Anak Buah Kapal (ABK) asal Indonesia terus menjadi sorotan dunia Internasional. Wakil Ketua DPR Azis Syamsuddin menganggap praktik pelanggaran HAM ini tidak dapat dipisahkan dari kejahatan perikanan illegal.

Azis Syamsuddin menilai, masifnya kejahataan ini tidak terlepas dari pola perekrutan, pemberangkatan hingga pantauan dari stakeholder terkait.

loading...

”Yang pertama saya prihatin atas data-data dan informasi perkembangan terbaru yang kita terima. Seperti pemulangan ABK dari Aceh. Jika dicermati, dari sejumlah kasus yang ada, pola rekrutmen dari kejahatan ini terpusat Pulau Jawa,” ungkap Azis Syamsuddin, Rabu (25/11/2020).

Azis Syamsuddin mencontohkan, peristiwa pemulangan tiga warga negara Indonesia yang bekerja sebagai anak buah kapal (ABK) di kapal Lu Lan Yuan/088 milik China kemarin (23/11/2020).

Ketiganya dipulangkan ke daerah Tanah Rencong, setelah sempat hilang kontak dengan keluarganya sekitar dua tahun. ”Saya mendapat kabar itu ketika sedang berada di Aceh. Alhamdulillah ketiganya selamat dan dalam kondisi sehat,” jelas Azis Syamsuddin dalam keterangan tertulisnya.

Poin pentingnya, pola rekrutmen harus pula dibenahi sejalan dengan pengawasan. Pasalnya sejak 2015 hingga saat ini sedikitnya ada 11 ABK Indonesia yang menjadi korban paksa dan meninggal dunia di atas kapal ikan berbendera asing.

”Sekali lagi saya tekankan. Ini merupakan pelanggaran HAM yang berat bila sampai menghilangkan nyawa masyarakat Indonesia,” tandasnya.

DPR, lanjut Azis Syamsuddin meminta kepada pemerintah untuk terus mensosialisasikan undang-undang nomor 18 tahun 2017 tentang Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (UU PPMI) dan meminta kepada BP2MI melakukan pengawasan terhadap para pekerja Indonesia yang bekerja di negara lain.

”Keprihatinan ini, membuat kita harus bergerak lebih baik. Jangan sampai ada korban selanjutnya. Anda bisa bayangkan, harapan mereka bekerja dan pulang membawa hasil, ternyata hanya tinggal nama. Lantaran kejahatan yang dibiarkan,” pungkas politisi Partai Golkar itu. (ful/scio/rls)

Comment

Berita Lainnya