by

Muncul Kerajaan menghebohkan Ini kata Edwar Syah Pernong

SINARMERDEKA.ID.TANGSEL –Edwar Syah Pernong, mengungkapan perbedaan kerajaan abal-abal dengan raja-raja nusantara yang sah. Menurutnya, raja palsu hanya mengutamakan kepentingan pribadi melalui kreasi berbalut tampilan eksebisi.

Hal ini, menurutnya, berbeda dengan raja nusantara yang sah. Mantan Kapolda Lampung tersebut menjelaskan, raja nusantara yang sah merupakan penegak tradisi maupun kebudayaan.

“Kalau raja (sah) itu dia adalah penegak tradisi, meluruskan tradisi-tradisi, kemudian merangkum kearifan-kearifan lokal sebagai kapital sosial kebudayaan nasional. Karena puncak dari kebudayan lokal ini adalah kebudayaan nasional,” katanya

Ia mengungkapkan hal tersebut usai pertemuan Majelis Adat Kerajaan Nusantara (MAKN) menggelar pertemuan di kawasan Intermark, Serpong, Tangsel, Rabu (29/1/2020).

Sebagaimana diketahui, belakangan marak munculnya kerajaan-kerajaan yang heboh di masyarakat. Kerajaan itu yakni Keraton Agung Sejagat maupun Sunda Empire. Munculnya kedua kerajaan itu berujung proses hukum di kepolisian.

Sementara itu, MAKN mengapresiasi kinerja aparat penegak hukum yang langsung memerkarakan pelaku kerajaan abal-abal.

Ketua Harian MAKN, KPH Eddy Wirabumi, mengatakan praktik kerajaan abal-abal jelas sudah merugikan masyarakat karena bermotif hanya untuk mendulang keuntungan materi.

“Saya rasa apa yang dilakukan pihak kepolisian sudah tepat, sudah pas karena itu didasarkan pada hoaks, pada data palsu. Kami serahkan ke aparat penegak hukum. Karena itu sudah menyangkut kriminal di bidang hukum,” tuturnya.

MAKN merupakan wadah para raja, para sultan, pemangku adat, yang sudah ada sejak jauh sebelum keberadaan Republik Indonesia. Data yang tercatat saat ini, jumlah pewaris kerajaan yang tergabung dalam MAKN mencapai 56 kerajaan, dari total kerajaan yang diprediksi mencapai sekira 250-an kerajaan kecil dan besar.(rls/okzone/simer)

Comment

Berita Lainnya