by

Pilkada, Ngak Bosan Jualan Kecap dan Minyak Pelicin?

SUKADANA – Lahirnya seorang pemimpin dari rakyat memang menjadi dambaan. Memahami isi hati hingga keluh-kesah dan kegelisahan yang menghantui adalah harapan dari proses demokrasi yang dibangun.

Sendi ekonomi, kesenjangan sosial dan keragaman adat budaya hingga perbedaan agama kerap menjadi jantung pemisah bahkan menjadi halangan menyatukan demokrasi itu sendiri. Padahal Pancasila mengajarkan keragaman.

loading...

Kondisi inilah yang coba diretas dan dikikis oleh pasangan Zaiful Bokhari-Sudibyo. Berangkat dengan nilai, itikat luhur dan semangat membangun, maka tak ada akar pembeda untuk membangun Lampung Timur ke depan lebih baik.

”Warga Lampung Timur memiliki hak dan kedudukan yang sama. Saya dan Mas Dibyo pun demikian. Kami lahir dari rahim rakyat. Ya sudah bisa menghadapi kegelisahan, kesulitan dan hambatan. Lampung Timur ke depan harus lebih baik dari sekarang. Ayo bangun tanah kita, kabupaten kita dengan keragaman yang ada,” tutur Zaiful Bokhari, seperti dilansir Publika.id Selasa (20/10).

Memang disadari, sambung Bang Ipul—sapaan akrab Zaiful Bokhari, seiring dengan berlangsungnya hiruk-pikuk pelaksanaan pilkada, situasi kerap dihebohkan oleh perang urat syaraf untuk mendapatkan kursi kepala daerah.

”Bahkan, ada juga yang menggunakan SARA untuk menjegal lawan politik. Menggunkan kelompok tertentu di arena pertarungan akbar ini untuk mendeskreditkan lawan. Tak jarang agama dan tempat ibadah digunakan sebagai jalan untuk menarik simpatisan konstituen,” paparnya.

Zaiful berharap, ini tidak terjadi di Lampung Timur.

ILUSTRASI: PUBLIKA.ID

”Tujuan politik yang kami usung adalah upaya menyatukan semua elemen. Bersinergi. Soal perbedaan itu biasa, toh kita lahir sudah berbeda-beda. Tapi Lampung Timur harus tampil dengan kekayaann perbedaan itu. Silahkan memilih calon pemimpin sesuai dengan nurani. Yang sudah terbukti, silahkan pilih kembali,” pesan Bang Ipul.

Menanggapi kondisi yang ada, Mas Dibyo berpendapat, pemilih saat ini semakin cerdas. Jika isu golongan dibawa, isu kelompok dikedepankan, dan pembusukan lawan dilakukan tentu ini tidak elok.

”Proses demokrasi mengajarkan kita untuk bekerja. Bekerja dengan lurus dan itikat yang baik. Bukan sekadar janji manis seperti gula. Tapi melahirkan penyakit. Bukan pula janji kecap atau janji minyak, yang cuma melicinkan jalan kekuasaan,” tegasnya.

Zaiful-Dibyo mengajarkan kerja dan jujur dalam mengabdi. Politik adalah mesin penggerak, semua kendali ada nurani. Lampung Timur sudah menjadi sorotan. Bagaimana kepemimpinan Zaiful dalam setahun sudah memberikan bukti bukan janji.

”Adem, ayem tentrem. Gemah ripah loh jinawi. Jangan kita dipisah-pisahkan dengan perbedaan kelompok. Justru perbedaan itu yang memperkaya Lampung Timur lebih maju,” imbuhhnya.

Pasangan nomor urut 2, lanjut Mas Dibyo memang tidak bisa memberikan ”kecap” apalagi ”minyak” yang bertebaran saat ini. Zaiful-Dibyo menjanjikan pemerataan pembangunan dan kesejahteraan rakyat.

”Basis kesejahteraan yang harus lahir dari keluarga mandiri. Sementara untuk menciptakan itu, dibutuhkan kehadiran pemerintah. Mengarahkan, memberikan akses dan ruang serta keleluasaan untuk berdikari dalam bidang apa pun. Lampung Timur harus gerak cepat, seiring dengan harapan,” timpal Mas Dibyo.

Disingung soal isu kelompok yang dihembuskan, Mas Dibyo merasa, ini akan menjadi bumerang bagi partai maupun kandidat itu sendiri. Siapa pun yang menggunakan kendaraan isu kelompok apalagi SARA sebagai isu utama akan terkikis dengan sendirinya.

Memang ada upaya yang didengungkan oleh lawan politik. Karena pasangan ini dianggap memiliki elektabilitas yang kuat. Dalam politik memang sebuah kewajaran, mencari panggung. Tapi Mas Dibyo menilai sudah tidak wajar jika mengelompokan golongan tertentu.

”Saya sendiri sadar itu. Saat turun ke warga, ada yang coba menghalangi dengan isu itu. Akhirnya muncul kekhawatiran di tengah konstituen. Kami diawasi, karena saya duga ada perintah dari sosok tertentu. Ya gak papa. Slow aja bro. Piye-piye wonge dewe,” timpal Mas Dibyo seraya melempar senyum.

Lalu apakah kepercayaan politik (political trust) warga negara akan menurun akibat kejenuhan masyarakat Lampung Timur dengan theater elite politik yang ada saat ini?

Kepercayaan rakyat terhadap institusi peternakan politik akan selalu hadir. Tapi jika gagal melahirkan kesejahteraan yang diidamkan, maka ini menjadi sinyal positif akan adanya perubahan besar dalam peta perpolitikan di Lampung Timur khususnya di Lampung.

”Maka sudahi jualan janji yang cuma basa-basi. Apalagi jualan kecap dan ”minyak” rakyat sudah cerdas bung. Sekarang saatnya adu program,” jawabnya.

Masyarakat merindukan elite politik atau pemimpin yang lahir dari rahim rakyat. Bukan lahir di tengah-tengah kejenuhan akan pemimpin yang berasal dari institusi peternakan politik yang menjual ”gula” sebagai pemanis menuju kekuasaan.

”Ingat lho rakyat akan berontak dan melawan. Jika itu tetap dilakukan,” tandas Mas Dibyo.

PDI Perjuangan, Partai Gerindra dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) sambung Sudibyo tentu memiliki intuisi politik yang tajam dalam memilah dan memilih pasangan yang diusung.

Pandangan, hingga gambaran survei menjadi parameter, bagaimana Lampung Timur ke depan lebih baik ketika dinahkodai kandidat yang lahir dari rahim rakyat.

Baik Zaiful dan Sudibyo ditempa oleh kondisi. Keudanya jalan dan bekerja lewat mesin partai politik sebagai saluran pengabdian. Bang Ipul sudah bisa belajar dari tempaan partai politik dan keriuhan yang hanya mengedepankan ego. Begitu pun Sudibyo.

”Maka momentum Pilkada 2020 kali ini adalah momentum kami bekerja untuk rakyat. Saya paham ada yang masih kecewa, tapi kekecewaan itu Insya Allah kami tuntaskan dengan hasil kerja. Kami bukan berjanji, tapi kami berusaha,” paparnya.

Di penghujung obrolan, Mas Dibyo kembali menegaskan, pemimpin yang lahir dari rahim rakyat harus memiliki nilai jual yang lebih dan menawarkan terobosan baru untuk mengatasi masalah yang ada.

Pemimpin Lampung Timur ke depan harus mampu membangun jaringan politik yang merangkul aneka ragam segmen dalam masyarakat. Jika modal sosial itu sudah dapat direngkuh dengan kuat, maka akumulasi dari modal sosial yang diperoleh dapat mendorong individu untuk bertindak bersama demi mencapai tujuan bersama.

”Tanpa modal sosial, pencapaian tujuan itu sangat sulit, karena untuk mendobrak tembok penghalang yang berupa hegemoni institusi peternakan politik yang menjual ”janji manis rasa gula” sudah mengakar dibutuhkan formula yang ampuh,” timpalnya.

Apakah masyarakat masih percaya dengan Institusi Partai Politik? Pertanyaan yang akan terjawab kelak nanti, dan akan terlihat ketika genderang perang sudah ditabuhkan.

”Kita semua sadar dan mungkin memahami, dalam masyarakat sering terjadi anomali-anomali yang tak terprediksi, namun setidaknya kita sebagai masyarakat luas dapat mengetahui persepsi masyarakat terhadap partai politik. Kuncinya niat dan bersungguh-sungguh,” terang Mas Dibyo.

Ketika memang dalam kenyataannya kepercayaan publik terhadap partai politik sudah tereduksi, berarti kita sebagai masyarakat yang bertindak sebagai civil society berhak bertanya, apakah ada yang salah dengan hasil yang dicapai.

”Saya ditempa hidup dengan keragaman. Dari basis organisasi yang beragam hingga terjun ke partai politik hingga hari ini mencalonkan diri. Mungkin kita membutuhkan cermin untuk melihat apa yang salah dengan demokrasi. Cermin itu penting, sebagai refleksi diri. Berkaca dari yang gagal untuk menjadi lebih baik,” ucapnya.

Melalui pilkada serentak ini, Zaiful Bokhari-Sudibyo senantiasa mengajak partisipasi masyarakat dalam pesta demokrasi, menjadikan dasar pemetaan menuju Lampung Timur lebih mantap.

”Yang belum terwujud masih ada kesempatan untuk kami implementasikan. Kerja yang belum tuntas bukan testing water apalagi disebut tes ombak. Yakinlah, di hati nurani Bang Ipul dan saya pribadi, berupaya menuntaskan semua program dan problem yang tertingal,” tegas Mas Dibyo.

Terpilihnya Zaiful-Sudibyo sebagai Bupati dan Wakil Bupati Lampung Timur merupakan representasi dari suara rakyat bukan merupakan suara kepentingan dari kelompok atau golongan tertentu.

Karena rakyat sudah terlalu bosan dengan drama-drama politik yang cenderung memperjuangkan kepentingan dirinya sendiri atau kepentingan kelompoknya. Rakyat merindukan sosok pemimpin dari rakyat, untuk membela kepentingan rakyat, dan didambakan oleh rakyat.

Zaiful-Sudibyo adalah representasi rakyat. Zaiful-Sudibyo juga lahir dari rahim rakyat. Bukan terbentuk dari janji gula manis apalagi janji kecap dan minyak” pelicin.

”Terakhir kami berpesan, sukses pilkada ditentukan tiga langkah. Pertama buka surat suaranya. Kedua coblos tengah-tengah nomor dua, ketiga lipat saja dan lalu masukan kotak suara. Selesai dan beri senyum untuk Lampung Timur makmur,” pungkas Mas Dibyo seraya mengacukan simbol peace dari tangan kanannya. (oi!/smol)

 

Comment

Berita Lainnya