oleh

Praktisi Koperasi : Holding Mikro Ultra Mampu Membendung Gerak Rentenir Berbaju Koperasi

TANGERANG– Praktisi sekaligus Presiden Direktur Koperasi BMI Kamaruddin Batubara mengatakan pembentukan holding BUMN ultra mikro dipercaya mampu membendung gerak rentenir berbaju koperasi.

Perlu diketahui, holding ultra mikro yang melibatkan tiga BUMN, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI, PT Pegadaian (Persero), dan PT Permodalan Nasional Madani (Persero) atau PNM dipercaya berdampak luas bagi motor ekonomi mikro masyarakat di tataran bawah. Saat ini Peraturan Pemerintah (PP) tentang pembentukan holding UMI dan UMKM sudah rampung, tinggal menunggu ditandatangani oleh Presiden Joko Widodo.

loading...

“Holding Ultra Mikro bukan mematikan koperasi. Justru menjadi tantangan bagi kita untuk bisa lebih efisien. Di situ perannya sebetulnya. Bagi koperasi yang tidak mau bersaing ini tekanan, berarti mereka mau mengambil untung terlalu besar. Koperasi seperti itu kapitalis, itu masalahnya,” ujar Kamaruddin dalam press releasenya yang diterima Sinar Merdeka, Selasa (29/6).

Tantangan yang dimaksud Kamaruddin adalah  koperasi memang harus kembali ke jatidiri dan memperkuat proses bisnis yang benar (business process) agar kompetitif. Hadirnya Holding BUMN Ultra Mikro pun tidak akan menggerus keberadaan koperasi. Justru koperasi yang menjalankan usahanya efisien dan memiliki anggota yang loyal tidak akan mati dengan adanya holding ultra mikro. Justru koperasi tersebut akan lebih kompetitif ke depan.

Presiden Kopsyah BMI Kamaruddin Batubara

Menurut Penerima Anugerah Penghargaan Satyalancana Wira Karya dari Presiden itu, holding ultra mikro berdampak untuk menekan gerak rentenir berbaju koperasi yang meresahkan masyarakat. Penyaluran kredit dari BRI, Pegadaian dan PNM akan lebih mudah dengan tingkat efisiensi yang menekan bunga dan cost of fund.

“Kalo saya melihat ini biasa saja,  karena bisnis  ketiga perusahaan itu sudah berjalan belasan hingga puluhan tahun, kemudian jadi holding mungkin untuk efisiensi.  Seperti PNM MEKAAR itu nasabahnya sudah 9 juta di  seluruh Indonesia dengan jumlah karyawan 5.400 orang. Itu biasa saja. Saya lebih tertarik menunjukkan dan promosi koperasi di tengah masyarakat yang kepercayaannya pada koperasi masih belum terlalu menggembirakan” ujarnya.

Penulis Best Seller Buku Model BMI Syariah Terbitan Kompas Gramedia itu mengajak koperasi harus sadar bahwa dirinya diamanati oleh pendiri bangsa sebagai soko guru ekonomi rakyat sehingga kembai ke jatidiri dan memperbaiki bisnisnya adalah langkah yang harus dilakukan.

“Koperasi sendirilah yang harus menunjukkan tentang kesokoguruan ekonomi rakyat. Kita orang koperasi pulalah yang mau tak mau menjalankan dan menunjukkan pada khalayak sehingga rakyat tidak perlu berpaling ke lembaga selain koperasi. Selama konteksnya bisnis maka hadapi dengan pendekatan bisnis. Regulasi perkoperasian membuka itu untuk kita tunjukkan pada rakyat tentang keunggulan menjadi  berkoperasi” ujarnya menutup penjelasan. (rls)

Komentar

Berita Lainnya