by

Tak Perlu Ancam Wartawan, Azis Syamsuddin: Ada Hak Jawab, Gunakan Saja

JAKARTA – Gesekan Walikota Bandarlampung kontra jurnalis yang menembak ancaman bukan menjadi barang baru. Bahkan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bandarlampung juga ikut mengecam sikap Herman HN yang tidak rasional sebagai pejabat.

Peristiwa ancam -mengancam terhadap jurnalis itu pun sampai ke telinga Wakil Ketua DPR RI Azis Syamsuddin.

loading...

”Cukup kaget dan menyedihkan dengan adanya kejadian itu. Tugas jurnalis bertanya dan mencatat fakta dan data. Sementara pejabat menjawab pertanyaan yang disampaikan, idealnya seperti itu yang elok. Tak perlulah ada ancam – mengancam, ”tutur Azis.

Ditegaskan Azis bahwa ancam – mengancam itu hanya dilakukan oleh orang yang tidak berbudaya. Seorang kepala daerah harus pandai-pandai menjaga emosi.

”Mereka bekerja untuk masyarakat juga kok. Toh yang diberitakan program pemerintah juga. Ketika ada narasi yang dibuat merisaukan, ada hak jawab sebagai penyeimbang Kode Etik Jurnalistik, ”terang wakil rakyat dari Dapil 2 Lampung itu.

Untuk diketahui, Herman HN menyampaikan ancaman bernada ancaman diwawancarai sejumlah jurnalis di DPRD Bandarlampung, Senin, (9/11/2020).

Dalam rekaman video, wali kota dua periode itu tampak kesal ketika jurnalis televisi tanggapan tanggapannya ihwal kepala Bappeda yang turut mensosialisasikan salah satu calon wali kota.

Ketika ditanya lebih lanjut, Herman berkata, ”Beritakanlah, pecah kepala kamu. Kamu jangan seenak-enaknya. Kamu belum tahu saya? Kata Herman.

Azis Syamsuddin sependapat dengan Ketua AJI Bandarlampung, bahwa pejabat publik dituntut berperilaku baik dan menjaga pembawaan. Kemudian, memegang nilai-nilai moral serta etika pemerintahan.

Atas dasar itu, kita sebagai objek pemberitaan harus pandai bersabar. Hati memang kerap panas ya, tapi lisan kita, tetap santun. Sampaikan dengan nada yang menyejukan, ”terang Azis.

Tentu saja, lanjut politisi Partai Golkar itu, sebagai narasumber, wali kota punya hak tidak menjawab pertanyaan wartawan. Maka tak perlu melontarkan ancaman. Cukup dijawab saja apa yang ditanyakan.

Azis berharap para jurnalis mengedepankan Kode Etik Jurnalistik (KEJ). Karena di dalam Pasal 1 KEJ mengingatkan bahwa tidak ada perjanjian dan tidak beritikad buruk.

Independen berarti memberitakan peristiwa atau fakta sesuai dengan suara hati nurani tanpa campur tangan, paksaan, dan intervensi dari pihak lain, termasuk pemilik perusahaan pers.

Sedangkan tidak beritikad buruk berarti tidak ada niat sengaja dan semata-mata untuk menimbulkan kerugian pihak lain.

”Sangat tepat. Pers juga dituntut menjaga integritas dan independensi. Terlebih pada tahun politik seperti ini. Saya tentu menaruh harapan, hal ini tidak terulang kembali. Saling menghargai, menjaga lisan dan sikap. Bersama kita ciptakan situasi yang hangat, ”harap Azis Syamsuddin. (ful / Oi!)

Comment

Berita Lainnya