by

Tetap Ada Peluang di Tengah Pandemi

JAKARTA – Tragedi nonbencana membuat semua mata menatap layu. Halaman muka perwajahan koran, majalah, tabloid sampai media online manarik judul yang menggambarkan kegelisahan hingga menebar ketakutan. Drama resesi ada di depan kita.

 

Ya, jurang resesi kian menganga di depan Indonesia, setelah pertumbuhan ekonomi kuartal ketiga diperkirakan hanya akan tumbuh 0 persen, bahkan berpeluang kontraksi hingga 2 persen.

loading...

Kapan ekonomi kembali pulih? Sehinggar ruang-ruang ekonomi kembali menggeliat setelah lama dipaksa tidur di tengah wabah virus Corona yang menghantap sendi bangsa.

Dari pertanyaan sederhana ini, ternyata para ekonom tetap bersikap optimistis. Meski pertumbuhan pada kuartal ketiga masih tetap negatif, namun setidaknya sudah lebih baik dibandingkan pada kuartal kedua.

Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Mohammad Faisal mengatakan resesi pada dasarnya hanya data statistik dan kesepakatan ekonom saja.

”Esensinya, kondisi di lapangan tidak ada bedanya, dari saat terjadi wabah dan setelah masa new normal,” ujar Faisal belum lama ini.

Resesi terjadi jika pada kuartal ketiga nanti, pertumbuhan ekonomi masih berkontraksi. Dengan demikian, sudah terjadi dua kali pertumbuhan negatif karena pada kuartal kedua lalu ekonomi Indonesia sudah berkontraksi 5,32 persen.

Dia mengatakan meski terjadi resesi, tidak berarti ada perubahan besar dalam ekonomi Indonesia.

Menurut dia, yang membedakan adalah adanya risiko lebih besar, apalagi perlambatan pertumbuhan ekonomi ini berlangsung berkepanjangan.

Hal ini terjadi karena banyak perusahaan dan masyarakat yang tertekan karena berada pada kondisi lebih buruk dari sebelum wabah.

Menurut dia, dampak lebih berat justru akan akan terasa apabila pada kuartal keempat mendatang tidak ada pemulihan ekonomi.

Tabungan masyarakat akan tergerus dan pekerja informal akan semakin menderita karena sepinya permintaan.

”Bagi yang tidak kuat, jika bantuan sosial telat datang, maka akan jatuh ke jurang kemiskinan,” kata dia.

Bantuan sosial saat ini merupakan salah satu upaya menahan laju lonjakan kemiskinan, ujar dia.

Faisal mengatakan resesi pada kuartal ketiga merupakan keniscayaan di tengah pandemic Covid-19.

Namun, kontraksi pertumbuhan pada kuartal ketiga diprediksi membaik dengan hanya negatif sekitar 2 persen.

”Apabila proses pemulihan terus berjalan, pada kuartal keempat akan menjadi lebih bagus lagi kondisinya, walaupun dibandingkan tahun lalu, masih tetap prihatin,” lanjut Faisal.

Menurut Faisal, yang mengkhawatirkan justru realisasi penyerapan anggaran pemulihan ekonomi.

Jika realisasinya lambat maka akan membuat proses pemulihan menjadi lebih panjang, akibatnya pengangguran dan dan kemiskinan akan meningkat akibat pendapatan yang berkurang.

”Masyarakat tidak perlu panik. Karena yang kita rasakan di kuartal ketiga ini trennya mulai membaik, tinggal seberapa cepat realisasi anggaran dari pemerintah,” tambah dia.

Trend perbaikan menurut dia diperkirakan akan berlanjut pada kuartal keempat, bahkan menjadi positif sehingga bisa mendorong pertumbuhan ekonomi sepanjang tahun menjadi paling tidak minus 1,5 persen.

Namun, kata dia, potensi pertumbuhan negatif pada kuartal keempat masih ada, sehingga pertumbuhan sepanjang tahun bisa menjadi minus 3 persen.

 

Ada peluang di tengah resesi

 

Kepala Ekonom BCA David Sumual mengatakan berdasarkan sejarah ada dua sikap masyarakat menghadapi penurunan aktivitas ekonomi, yakni optimistis dan pesimistis.

”Tiap krisis selalu ada kesempatan baru. Seperti saat perang dunia I dan II, yang diikuti banyak inovasi,” ujar dia.

Karena itu, masyarakat perlu lebih kreatif dan inovatif memanfaatkan situasi saat ini, karena akan ada banyak peluang baru.

Kunci perbaikan ekonomi saat ini adalah pengendalian wabah Covid-19, karena apabila tidak tertangani maka kepercayaan masyarakat untuk “spending” belum bisa pulih.

”Peran pemerintah untuk UMKM dan sektor informal perlu didukung untuk bisa memberikan bantalan sosial pada saat ekonomi tidak kondusif,” kata Sumual.

Menurut dia, meski resesi kian dekat, namun itu bukan sebuah hal yang mengerikan karena berdasarkan data dari Bank Dunia, lebih dari 90 persen negara di dunia akan resesi.

”Tinggal bagaimana derajat kontraksi dan resesinya. Negara lain banyak yang kontraksi double digit, tapi kita masih moderat di single digit,” ujar Sumual.

 

Harus tetap waspada

 

Ketua Asosiasi Kader Sosio-Ekonomi Strategis (AKSES) Suroto mengatakan ancaman resesi ini harus membuat semua pihak waspada.

Menurut dia, akan banyak hal negatif jika Indonesia dilanda resesi. ”Pengangguran terbuka akan meningkat 1 juta orang dari sebelumnya atau menjadi sekitar 8 jutaan orang,” ujar dia.

Kondisi ini kata dia juga akan akan semakin parah karena daya beli masyarakat akan semakin memburuk karena usaha mikro dan kecil sebagai penopang ekonomi tidak akan segera membaik.

”Dana stimulus untuk UMKM yang lamban dan sangat kecil porsinya dibandingkan dengan korporat justru akan menciptakan tambahan beban fiskal,” ujar dia.

Hingga kini, kata Suroto pemerintah masih terus menahan stimulus fiskal untuk menggenjot daya beli masyarakat. Padahal pertumbuhan ekonomi kita itu sangat tergantung dari konsumsi.

”Porsi dana Pemulihan Ekonomi Nasional ( PEN) untuk UMKM sebesar Rp124 triliun juga tidak tepat sasaran karena mandek di bank yang over prudent,” ujar dia. (oke/beb)

Comment

Berita Lainnya